Produktivitas Dosen dan Profesor Dievaluasi pada November 2019

JUMAT, 23 FEBRUARI 2018 | 14:45 WIB

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah mengeluarkan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas dosen dalam menulis serta menghasilkan publikasi internasional. Meski sempat menuai protes di kalangan dosen, nyatanya saat ini jumlah publikasi internasional terindeks Scopus Indonesia mampu melampaui Thailand, bahkan menduduki posisi ketiga di Asia Tenggara, di bawah Malaysia dan Singapura dengan 15.419 publikasi di akhir 2017.

Kendati demikian, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, kebijakan tersebut belum sepenuhnya mampu “membangunkan” para profesor untuk aktif menulis. Berdasarkan aplikasi Science and Technology Index (SINTA) Ristekdikti selama tiga tahun terakhir, per akhir 2017 baru ada 1.551 orang profesor yang publikasinya memenuhi syarat sesuai dengan Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Padahal, jumlah profesor yang sudah mendaftar pada aplikasi SINTA sebanyak 4.200 orang. Sedangkan untuk lektor kepala, dari 17.133 orang yang mendaftar SINTA, hanya 2.517 orang yang lolos memenuhi syarat publikasi.

“Jumlah dosen Indonesia saat ini tercatat 283.653 orang, dengan 5.463 di antaranya adalah profesor, 58.986 lektor, dan 32.419 merupakan lektor kepala. Sehingga memang belum semuanya mendaftar pada aplikasi SINTA. Bisa jadi para dosen tersebut produktif tetapi tidak terdeteksi karena tidak ada dalam sistem,” tutur Ghufron kepada wartawan di Gedung D Kemenristekdikti Jakarta, Kamis (22/2).

Terkait evaluasi terhadap produktivitas dosen dan profesor, Ghufron menegaskan akan dilakukan pada November 2019. Pasalnya, saat ini pihaknya masih menggodok revisi pada Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017. Sehingga, sampai saat ini belum ada pemangkasan tunjangan kehormatan profesor hingga evaluasi kebijakan tersebut rampung.

“Proses revisi kebijakan masih berjalan, sudah 95 persen, dan harus menunggu konfirmasi dari Pak Menteri. Beberapa hal yang kami perhatikan, yakni dosen tidak hanya menghasilkan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu menerbitkan buku. Sebab, ternyata tidak semua jurnal internasional itu bereputasi,” tuturnya.

Peraih gelar Doktor Kehormatan bidang kesehatan dari Coventry University Inggris itu mengimbau kepada para dosen untuk tidak sembarangan memasukkan tulisan ilmiahnya ke dalam jurnal yang tidak bereputasi. Menurut Ghufron, dalam penulisan publikasi internasional, seorang dosen atau profesor tidak harus menjadi penulis pertama, tetapi juga bisa berkolaborasi dengan dosen atau peneliti lain. Di samping itu, terkait indeks jurnal tidak hanya bergantung pada Scopus, tetapi bisa menggunakan indeks lain, seperti Copernicus, Thomson, dan lain sebagainya.

“Penyebab tidak banyak yang tersortir karena mereka tidak menghasilkan publikasi di jurnal bereputasi, bahkan jurnalnya abal-abal juga ada. Untuk itu para dosen harus bisa mengidentifikasi jurnal-jurnal yang abal-abal, misalnya tidak terbit secara rutin, tidak memiliki alamat yang jelas untuk bisa ditelusuri, tidak menggunakan bahasa internasional, tidak di-review oleh pakar di bidangnya, penulisnya itu-itu saja, cetakan yang tidak sesuai, dan lain sebagainya,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Ghufron tak menampik jika banyak kendala yang membuat dosen kurang produktif untuk menulis. Beberapa di antaranya meliputi waktu dosen Indonesia habis untuk mengajar, kultur menulis ilmiah masih rendah, tidak semua dosen mudah mencari dana penelitian, serta tidak ada sanksi yang tegas bagi mereka yang tidak menjalankan tugasnya. Pada poin terakhir, Mantan Wakil Menteri Kesehatan itu berharap, hasil revisi Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mampu menjadi instrumen yang tepat untuk mengevaluasi profesionalisme dosen dan produktivitas profesor. Sebab, profesor merupakan jabatan akademik, bukan sebuah gelar semata sehingga mereka memiliki tugas untuk melaksanakan kewajibannya.

Sekarang belum dikaitkan dengan tunjangan karena sedang direvisi, masih ada sekira 1,5 tahun lagi sampai November 2019. Saya yakin seorang profesor pasti memiliki ide-ide yang menarik untuk dijadikan sebuah tulisan ilmiah. Seorang profesor harus menjadi academic leader yang menguasai bidangnya, sehingga dia dapat membimbing dan menghasilkan produk inovatif yang dapat membawa kesejahteraan bangsa,” simpul Ghufron. (ira)

Sumber: 

http://sumberdaya.ristekdikti.go.id

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tags

 

Artikel Terkait :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.