Universitas Airlangga Gandeng Universitas Asing

screenshot_2016-09-29-03-08-29-1

13 Maret 2017

SURABAYA, KOMPAS — Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerja sama dengan Universitas Flinders, Australia, untuk membuka program studi spesialis paliatif. Program studi yang akan dibuka pada Agustus 2017 itu akan menjadi yang pertama di Asia Tenggara.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair Sunaryadi Tejawinata seusai pertemuan dengan perwakilan Universitas Flinders di Rektorat Unair, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (11/3), mengatakan, saat ini belum ada kampus di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang memiliki program studi paliatif. Jika ada dokter yang mengambil spesialis itu, mereka harus mengambil studi ke universitas di Australia ataupun Eropa.

Ilmu kedokteran paliatif merupakan pelayanan bagi pasien yang menderita penyakit berat seperti kanker agar kualitas hidupnya meningkat meski menderita penyakit yang sulit disembuhkan. Mereka bertugas mengembalikan guncangan psikologis yang diderita pasien sehingga pengobatan pada penyakitnya bisa dilakukan dengan maksimal.

Hingga saat ini, ada 14 dokter spesialis paliatif di Indonesia. Sebagian besar ada di Surabaya dan Jakarta. “Dokter spesialis paliatif mayoritas sudah tua, berusia sekitar 60 tahun, sehingga membutuhkan regenerasi,” katanya.

Keberadaan dokter spesialis paliatif, kata Sunaryadi, seharusnya bisa lebih ditingkatkan. Sebab, untuk penyakit berat yang sulit disembuhkan seperti kanker, prevalensinya menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan mencapai 1,4 per 1.000 penduduk. Sebagian besar penderita kanker itu datang ke dokter saat berada dalam kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Mereka biasanya merupakan orang dengan kondisi keuangan yang terbatas.

Masa studi

Masa studi yang ditempuh selama tujuh semester dengan rincian satu semester menjalani mata kuliah dasar umum dan sisanya enam semester melakukan praktik. Tenaga pengajarnya akan diisi oleh dosen dari Unair dan Universitas Flinders.

Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unair Djoko Santoso mengatakan, kerja sama dengan Universitas Flinders karena mereka sudah memiliki pendidikan spesialis paliatif. Universitas Flinders akan memberikan bantuan dalam pembuatan kurikulum dan tenaga pengajar ke Unair.

“Dosen Unair juga akan dikirim ke Universitas Flinders untuk meningkatkan kemampuan dalam ilmu paliatif,” ujarnya.

Kerja sama dengan Unair, kata delegasi Universitas Flinders, David Curry, dikarenakan fakultas kedokteran di kampus itu memiliki pelayanan paliatif sejak 25 tahun yang lalu. Oleh sebab itu, kedua universitas sepakat untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas mencetak spesialis paliatif baru untuk mengisi kekurangan di Indonesia. (SYA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2017, di halaman 12 dengan judul “Universitas Airlangga Gandeng Universitas Asing”.

Bagikan :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tags

 

Artikel Terkait :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.