Perlu Kolaborasi Antar-PT

Penguatan Vokasi Harus Diimbangi Ketersediaan Dosen dan Sarana

Screenshot_2016-07-05-09-26-11-1

30 Desember 2016
JAKARTA, KOMPAS — Komitmen untuk meningkatkan jumlah institusi dan mahasiswa vokasi, terutama politeknik, diyakini meningkatkan mutu pendidikan dan relevansi dengan industri. Namun, harus didorong pula agar terjadi kolaborasi antara PT vokasi dan PT non-vokasi.

Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri Se-Indonesia Rachmat Imbang Tritjahjono yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (29/12), mengatakan, komitmen pemerintah untuk merevitalisasi politeknik merupakan langkah yang baik. Pendidikan vokasi di politeknik telah menunjukkan bukti dalam menyediakan tenaga kerja yang siap pakai untuk kebutuhan industri.

“Meskipun ada dukungan yang kuat untuk pendidikan vokasi di politeknik, harus ada kolaborasi yang baik antara PT vokasi dan PT non-vokasi (akademik). PT akademik harus kuat dalam riset fundamental, sedangkan vokasi dalam riset terapan. Kami berharap kolaborasi ini membuat bangsa ini mulai menghasilkan produk-produk yang tadinya diimpor,” kata Rachmat yang juga Direktur Politeknik Negeri Bandung.

Secara terpisah, Direktur Politeknik Negeri Surabaya Zainal Arief mengatakan, politeknik butuh penguatan di bidang-bidang utamanya. Hal ini memerlukan keunggulan sumber daya manusia, terutama dosen bersertifikat serta kelengkapan sarana dan prasarana dalam pembelajaran dan praktik kerja.

Menurut Zainal, dengan bertambahnya politeknik dan mahasiswa ke depannya, butuh banyak tempat bagi mahasiswa untuk magang, untuk belajar langsung di dunia industri. Politeknik yang kualitasnya bagus, kemitraan dengan industri sudah kuat. Namun, semakin banyak industri yang terlibat, yang sesuai dengan kompetensinya, tentu sangat bagus.

Tantangan dalam pengembangan politeknik, kata Rachmat, disparitas kualitasnya masih tinggi.

Berwirausaha

Hal senada disampaikan Zainal. Tidak ada kesulitan untuk menyalurkan lulusan karena industri sudah percaya dengan mutu lulusan. Namun, politeknik juga menyiapkan mahasiswa untuk siap menjadi technopreneur agar bisa membuka lapangan kerja.

“Kami menyiapkan mahasiswa yang siap kerja di industri dan siap menjadi technopreneur. Di kampus ada unit bisnis inkubator untuk membekali siswa menjadi wirausaha,” ujar Zainal.

Lulusan politeknik terbaik sebenarnya juga dibidik untuk mejadi dosen. Namun, merekrut dosen dari lulusan terbaik tidak semudah yang dibayangkan. Saingannya dengan industri yang datang ke kampus.

“Industri mampu menawarkan gaji dan karier yang bagus. Padahal, kita butuh dosen yang memahami pendidikan vokasi. Biasanya, mahasiswa yang punya potensi menjadi dosen didekati sejak awal,” katanya.

Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo mengatakan, pemerintah mulai menyosialisasikan ke industri agar dalam merekrut tenaga kerja lebih melihat sertifikat kompetensi, bukan sekadar ijazah. Kepada masyarakat pun disosialisasikan keunggulan pendidikan vokasi. (ELN)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Desember 2016, di halaman 11 dengan judul “Perlu Kolaborasi Antar-PT”.

Baca juga :

Serapan Rendah, Jumlah Mahasiswa Vokasi Hanya 5,6 %

Tags

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.