PENGHARGAAN
Habibie Award 2012 untuk Dua Ilmuwan


Rabu,28 November 2012
Jakarta, Kompas – Dua ilmuwan bidang Ilmu Pengetahuan Dasar dan Ilmu Kedokteran, yakni Effendy (Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang) serta Teguh Santoso Sukamto (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), mendapat anugerah Habibie Award 2012 dalam rangka ulang tahun ke-13 The Habibie Center.

Jakarta, Kompas – Dua ilmuwan bidang Ilmu Pengetahuan Dasar dan Ilmu Kedokteran, yakni Effendy (Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang) serta Teguh Santoso Sukamto (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), mendapat anugerah Habibie Award 2012 dalam rangka ulang tahun ke-13 The Habibie Center.

Para penerima penghargaan akan menerima piagam, medali, dan uang tunai masing-masing 25.000 dollar AS atau sekitar Rp 237 juta. Penghargaan itu akan diberikan bersamaan dengan peluncuran buku Democracy Take- Off?: The BJ Habibie Period pada 28 November 2012 di Hotel Atlet Century Park, Jakarta.

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM-IPTEK) Wardiman Djojonegoro menjelaskan, proses seleksi dan pemberian penghargaan dilakukan Yayasan SDM- IPTEK. Hingga 2011, telah diberikan penghargaan kepada 37 orang di bidang Ilmu Pengetahuan Dasar, Ilmu Kedokteran dan Bioteknologi, Ilmu Rekayasa, Ilmu Ekonomi, Sosial, Politik dan Hukum, serta Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan.

”Dari sekian banyak bidang, kami hanya memperoleh dua ilmuwan berdasarkan masukan dari masyarakat,” kata Wardiman, Selasa (27/11), di Jakarta.

Effendy selama ini meneliti Kimia Anorganik Fisik terkait dengan sintesis secara sistemik dan penentuan struktur dengan metode difraksi sinar-X senyawa koordinasi dari logam tembaga, perak, dan logam-logam alkali dengan ligan dengan unsur-unsur golongan 15 (VA), nitrogen, fosfor, arsenik, dan antimoni.

Teguh terpilih karena menekuni pengobatan bagi penderita jantung melalui teknik nonbedah atau yang lebih dikenal dengan kardiologi intervensi. Pada 1999, ia melakukan intervensi koroner perkutan pertama di Indonesia. (LUK)

Sumber: http://cetak.kompas.com/

Profesor X-Ray dan Sel Punca Dianugerahi Habibie Award

Penerima Habibie Award

Jakarta – The Habibie Center menganugerahkan penghargaan Habibie Award kepada dua ilmuwan Indonesia atas prestasinya. Dua ilmuwan itu adalah Profesor Effendy dan Profesor Dr Teguh Santoso Sukamto.

Penghargaan diberikan dalam sebuah acara di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (28/11/2012). Penghargaan ini merupakan periode ke 14 pada tahun 2012. Keduanya menerima piagam, medali, dan uang masing-masing sebesar US$ 25.000.

Prof Effendy MPd adalah penerima penghargaan di bidang Ilmu Dasar Kimia. Pria kelahiran 1956 ini adalah dosen FMIPA Universitas Negeri Malang. Effendy adalah peneliti alat X-Ray untuk struktur molekul.

“Saya berkeinginan alat X-Ray Defragtometer ini tidak hanya untuk molekul kecil, tapi juga untuk molekul-molekul besar atau makro. Displin struktur molekul ini, tidak hanya untuk kepentingan publikasi, namun dengan memahami struktur molekul, kita bisa meramalkan sifat-sifat molekul seperti apa, dan ini bisa meramalkan penyakit tertentu yang berkaitan dengannya,” papar Effendy dalam sambutannya.

Sejumlah prestasi yang telah diraih antara lain Effendy adalah satu-satunya ilmuwan Indonesia yang dimasukkan dalam “CSD Author Statistics” dalam “Cambridge Crystallographic Data Centre” yang berisi nama-nama peneliti yang berhasil mempublikasikan minimal 50 struktur senyawa baru dalam jurnal-jurnal internasional.

Namanya dimasukkan dalam “International Directory of Distinguished Leadership,” American Biographical Institute, Inc USA (2001). Juga termasuk “2000 outstanding intellectual of the 21st century” International Biographical Centre, Cambridge, UK (2008). Ia juga memperoleh “Gold Medal for Indonesia” dari American Biographical Institute, USA (2006).

Sementara itu Prof Dr Teguh Santoso Sukamto adalah penerima penghargaan Bidang Keilmuan Ilmu Kedokteran. Dia adalah dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Teguh adalah peneliti yang mengembangkan sel punca.

“Penderita penyakit jantung sering datang dalam kondisi sudah terjadi kerusakan irreverseble atau berada amat lanjut sehingga sulit diatasi walaupun dengan terapi obat-obatan atau juga tindakan operasi dan pemasangan stent. Salah satu kondisi ini adalah gagal jantung. Alternatif pengobatannya yaitu sel punca. Terapi ini tujuannya memperbaiki dan meregenerasi jaringan. Dengan demikian bukannya mengganti jantung yang rusak dengan jantung lain, tetapi diciptakan otot jantung baru, yang sehat, di jantung yang sudah sakit tersebut,” papar Teguh dalam sambutannya.

Sejumlah prestasi yang telah diraih Teguh antara lain menjadi pakar terapi sel punca untuk pengobatan penyakit jantung. Melalui penggunaan sel punca (stem cell), otot jantung yang rusak atau mati dapat diperbaiki kembali. Dia mempelajari terapi sel punca dari pakar dari Texas Heart Institute, Prof Emerson Perin.

Teguh menjadi dokter Asia pertama yang mendapat pengakuan dari Texas Heart Institute untuk melakukan terapi penyuntikan sel punca langsung ke otot jantung melalui proses pemetaan.

Tahun 2012, pertama di Indonesia, Teguh melakukan pemasangan alat LAA Occluder untuk pencegahan stroke pada pasien.
(mpr/nrl)

Sumber : http://news.detik.com/

Tags

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.