Pelatihan FGD dan Wawancara Mendalam Bagi Para Pensurvei Akademi Komunitas

http://www.dikti.go.id/

Written by Firman Hidayat

Friday, 02 December 2011 13:03
Balikpapan, 1 Desember 2011–Setelah sebelumnya melaksanakan sosialisasi program pembangunan pendidikan Akademi Komunitas di berbagai daerah, kini Ditjen Pendidikan Tinggi mulai melaksanakan program pelatihan bagi para pensurvei terpilih dari masing-masing daerah guna mendata relevansi program studi Akademi Komunitas dengan keunikan potensi di setiap daerah yang telah dipetakan. Peserta terpilih yang hadir dalam setiap pelatihan tersebut berasal dari berbagai Politeknik dan SMK yang mewakili daerah dan regionalnya masing-masing.

Pelatihan yang dilaksanakan di Balikpapan, Rabu (30/11) sebagai daerah bagian dari Regional III merupakan rangkaian pelatihan kedua, setelah sebelumnya Ditjen Dikti memilih Bandung  sebagai kota yang mewakili daerah-daerah yang masuk ke Regional II program pembangunan pendidikan Akademi Komunitas tersebut. Suasana pelatihan Regional III yang berlangsung selama dua hari ini berlangsung apik dan aktif, terlebih narasumber yang dihadirkannya seperti Bagong Suyanto dan Sutinah dari Universitas Airlangga mampu menyajikan materi secara menarik.

Dalam pelaksanaannya nanti, para peserta atau pensurvei ini akan menggunakan metedologi Focus Group Discussion ( FGD ) dan Wawancara Mendalam (Indepth Interview) dalam menggali wacana dan pandangan para pemangku kepentingan yang terkait dengan potensi yang dimiliki oleh setiap daerah. Metedologi FGD dan wawancara mendalam ini diyakin tidak lagi asing oleh para peserta, mengingat latar belakang peserta yang banyak dari kalangan akademisi. Hal ini pun diyakini oleh kedua pembicara, menurut mereka metedologi tersebut bukanlah hal yang baru bagi para peserta, “ tugas kami hanya memaparkan dan memberikan tips dan trik yang nantinya akan memudahkan dalam implementasinya dilapangan “ sahut Sutinah.

Walaupun begitu tidak sedikit pesan yang di sampaikan oleh keduanya, seperti apa yang diutarakan Bagong menurut dirinya para peserta dalam pelaksanaannya nanti hendaknya tetap mengambil jarak dengan setiap wacana atau pendapat yang diutarakan oleh para pemangku kepentingan. Bagong pun mengungkapkan bahwa studi yang dilakukan nanti hendaknya dapat masuk lebih dalam dari pada hanya pada wilayah permukaan wacana. Bagong pun mengatakan bahwa para peserta harus dapat teliti dalam melaksanakan FGD tersebut, karena dalam pendekatan kualitatif hal yang akan sering dialami oleh para peneliti adalah banyaknya multi tafsir, “ untuk fakta sosial, kemungkinan terjadi multi tafsir itu akan sangat besdar, fakta yang sama tapi dengan dilakukan peneliti yang berbeda bisa saja hasilnya ikut berbeda “ jelas Bagong.

Lain halnya dengan Sutinah, menurutnya dalam melaksanakan FGD, peserta yang nantinya berperan sebagai moderator harus dapat tegas dan sikap dalam mengatur alur pembicaraan sehingga isu yang akan dibicarakan tidak ngalor-ngidul , “ karena itulah namanya Focus Group Discussion “ ujar Suhartini.

Pemangku kepentingan yang akan dituju untuk FGD dan wawancara mendalam  sendiri adalah para anggota atau pejabat dari lingkungan Dewan Perwakilan Daerah, Bappeda, Dinas Pendidikan , Dinas Tenaga Kerja, Dinas Kerajinan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat,Dinas Koperasi, Industri yang tersebar di Kabupaten atau Kota, Camat, Kepala Desa, Lembaga Sosial Masyarakat, Kepala SMK/SMA atau yang sederajat, pengusaha, tokoh kemasyarakatan,serta pelaku usaha terkemuka di masing-masing  daerah. Meskipun para pemangku kepentingan ini sudah dipaparkan, Sutinah mengungkapkan bahwa tidak menutup kemungkinan akan ada pemangku kepentingan yang dianggap cocok untuk ikut dimasukkan ke dalam katagori yang akan ambil bagian di FGD dan wawancara mendalam tersebut.

Tags

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.