Lima Orang Guru Mendapat Satyalencana Pendidikan

11/30/2011
Sebanyak lima orang guru dan kepala sekolah berprestasi mendapat tanda kehormatan Satyalencana Pendidikan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan tersebut diberikan kepada lima orang guru dan kepala sekolah yang berprestasi dan berdedikasi luar biasa, dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Mereka adalah  Abdul Hajar (SMAN 3 Makassar), Herfen Suryati (YPVDP Bontang), Imron Rosidi (SMKN 2 Pasuruan), Mustafa (SMKN 4 Makassar), dan Akib Ibrahim (Kepala SMKN 1 Pacet, Cianjur).

“Semoga saudara-saudara semua mampu mendidik anak-anak bangsa yang cerdas dan berkarakter unggul,” kata Presiden di hadapan 4.500 guru yang hadir pada Puncak Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-66, di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Rabu (30/11). Turut hadir dalam acara ini Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono, para ketua lembaga tinggi negara, anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Ketua Umum PGRI Sulistiyo.

Pada kesempatan itu, Presiden meminta agar metodologi, evaluasi pembelajaran lebih disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Begitu juga infrastruktur SD dan SMP harus diselesaikan dalam tiga tahun mendatang.  Pasalnya, masih sekitar 10-15 persen ruang kelas di penjuru negeri yang masih harus dibenahi.

“Tahun depan, kami akan ajukan Rp286,6 triliun untuk anggaran pendidikan. Anggaran yang makin besar itu kita harapkan makin bisa memenuhi kebutuhan pendidikan, baik untuk BOS (biaya operasional sekolah), perbaikan infrastruktur SD dan SMP, penanganan delapan juta siswa miskin, sertifikasi guru, dan lainnya,” kata Presiden SBY.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, dalam sambutannya meminta guru berperan sebagai katalisator dalam menyampaikan ilmu pengetahuan, dan bukan berperan sebagai reaktan. “Sebagai katalisator, guru mempercepat penyerapan benih pengetahuan dan mengakar kuat, serta dapat melipatgandakan modal pengetahuan yang dimilikinya,” kata Menteri Nuh. Sedangkan guru yang bersifat reaktan akan melebur dan larut, sehingga tidak dapat berfungsi lagi di masyarakat.

Selain pemberian tanda kehormatan satyalencana, pada peringatan puncak hari guru nasional dan HUT PGRI ke-66 juga diberikan bantuan tali kasih kepada 12 guru berprestasi dari Bank Negara Indonesia (BNI) 46. Penerima tali kasih tersebut adalah, Abdul Hajar, Imron Rosyidi, Akib Ibrahim, Herfen Suryati, Mustafa, Titin Wahyuningsih, Amir Hamzah, Abdul Azis Faisal, Aris Riyadi, Ainur Rojik, Sofyan, Diniati Hakim. (Aline)

>>>

Hari Guru 2011

Nuh: Bersyukurlah Menjadi Guru…

http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/30/13485913/Nuh.Bersyukurlah.Menjadi.Guru.

Rabu, 30 November 2011 | 13:48 WIB
BOGOR, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengajak seluruh guru di Indonesia menjaga kemuliaan yang tersemat di dalam profesi keguruannya. Hal itu disampaikan Nuh pada puncak peringatan Hari Guru Nasional dan HUT Ke-66 PGRI, Rabu (30/11/2011) di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat.

“Ada seorang guru teladan yang ditanya mengenai alasannya menjadi seorang guru? Ia menjawab, karena guru, dan hanya guru yang dapat menyentuh pinggiran masa depan generasi muda,” kata Nuh.

Nuh mengungkapkan, hal itulah yang membuat profesi guru menjadi lebih menarik. “Guru adalah mulia, memuliakan profesi yang mulia adalah kemuliaan, dan hanya orang mulia yang tahu cara melakukannya,” ujarnya.

Nuh melanjutkan, para guru sudah seharusnya bersyukur karena telah menjadi seorang guru. Meski ada beberapa kesulitan, ia meminta agar jangan menjadi alasan para guru mengendurkan semangat profesionalitasnya dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Ada sebuah kisah, orang tersebut selalu menghargai siapa pun yang telah mengajarinya meskipun hanya mengajari satu huruf. Bersyukurlah menjadi guru, dan jaga kemualiaan itu,” ujar Nuh.

Nuh juga mengingatkan, guru yang baik adalah mereka yang mampu mempercepat proses dengan hasil yang lebih efektif dan dapat membuat suasana belajar yang sesuai dengan anak didiknya.

Tugas guru, selain menanam, juga harus mampu menyiapkan generasi penerus. Gurulah yang mampu mengantar anak didiknya sampai ke pintu gerbang masa depan,” ujarnya.

Tags

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.